KALIMANTAN SELATAN — Dunia konservasi kembali diguncang. Burung pelanduk Kalimantan (Malacocincla perspicillata), spesies yang selama ini diyakini telah punah sejak tahun 1848, akhirnya kembali terdeteksi di alam liar setelah menghilang selama 172 tahun. Penampakan mengejutkan ini tercatat pada tahun 2020 di Provinsi Kalimantan Selatan.
Selama lebih dari satu abad, burung ini hanya hidup dalam arsip ilmiah dan catatan museum. Tidak ada laporan lapangan, tidak ada dokumentasi visual, dan tidak ada jejak populasi. Karena itu, burung pelanduk Kalimantan secara luas dianggap telah lenyap dari bentang alam Nusantara.
Fakta kemunculannya kembali membongkar satu kenyataan penting: kepunahan tidak selalu berarti hilang selamanya. Para peneliti menilai, burung pelanduk Kalimantan kemungkinan bertahan di habitat yang relatif aman, terpencil, dan sulit dijangkau manusia. Populasi yang sangat kecil membuat spesies ini nyaris tak terlihat, hingga akhirnya kembali terungkap.
Fenomena ini bukan kasus tunggal. Sejumlah satwa lain di Indonesia juga tercatat “muncul kembali” setelah lama dinyatakan punah. Polanya serupa: wilayah hutan yang minim aktivitas manusia menjadi benteng terakhir bagi spesies-spesies langka tersebut.
Namun temuan ini sekaligus menjadi peringatan keras. Kembalinya burung pelanduk Kalimantan tidak boleh dimaknai sebagai kemenangan. Sebaliknya, ini adalah sinyal darurat. Tanpa perlindungan habitat yang serius dan kebijakan konservasi yang tegas, spesies ini berpotensi kembali menghilangkali ini untuk selamanya.
Burung pelanduk Kalimantan telah kembali. Pertanyaannya kini, apakah negara siap menjaganya, atau justru kembali membiarkannya hilang dalam diam?***
#Burung Langka Indonesia #Pelatuk Kalimantan